Layaknya
manusia bodoh, lidahku kelu mendengar segala ucapanmu. Caramu mengisahkan dia
terhadapku begitu beda, seperti ada sinar yang membuatku ragu akan sebenarnya
hatimu. Terkadang terlihat putih dengan rasa manis, namun terkadang terlihat
hitam dengan rasa pahit. Aku tak pernah tau kenapa aku harus marah dan sering
menanyakan semua tentang kau, yang ku tahu... tanpamu aku seperti tak mampu
melangkah. Hai anak adam, ku mohon kembalikan kebahagiaanku yang secara sepihak
kau rebut. Tuhaan, betapa aku lelah dengan cuaca yang tak pasti, dengan angin
yang sering memaksa untuk ku tangkap, dengan alam yang seolah tanpa sedikitpun
memberi pembelaan terhadapku. Huuffft... aku hanya ingin semua berakhir dengan
senyuman.
Akupun tak
begitu tau tentang rasa ini, inikah cinta?? Semua diam.... kepada siapa ku
harus mengadu, aku butuh sepasang telinga yang selalu tulus medengar nada-nada
lidahku, aku butuh sepasang mata untuk selalu dengan tulus melihat senyumku
yang terkadang meredup karena tertiup angin rindu, aku butuh jemari yang lembut
yang selalu dengan tulus menyeka setiap titik air mataku, dan akupun butuh
uluran tangan untuk mempermudah jalan dan meringankan langkahku serta menuntun
langkah gontaiku.
Tuhan, aku tak
ingin berlarut dalam ruang tanpa warna, tunjukkan aku jalan yang sekiranya aku
mampu membuatMU tersenyum melihatku. Aku begitu takut jikalau Kau
meninggalkanku. Bawa hatiku kedalam tawa sang waktu, kedalam naluri
malaikat-malaikatMu. Kenapa KAU tak ciptakan aku sebagai malaikat? Selalu dekat
denganMu, dan tak pernah ada cuaca buruk disana. Karena cintaMU selalu
menyelimuti mereka.
Semua ini salahku, aku mencari dan mengikat
setelah ku temukan keindahan dalam dirimu. Setiap ucapmu, langkahmu, tatapmu,
bahkan marahmu.... selalu ada keindahan disana. Beribu detik yang mengiringi
nafasku dan nafasmu, puluhan tawa yang kau ciptakan untukku, setiap ayunan
lengan yang menunjukkan kasih sayangmu... seluas itu kau percikkan tinta emas
di dinding hatiku. kau tak pernah tau indahnya rangkaian asaku. Dedaunan yang
gugur itupun tau, mereka saksi kebisuan cintaku, mereka mengerti dan selalu
menjawab pertanyaanku dengan mengerutkan setiap urat yang kemudian mengering
malu karena tak mampu membantuku. Bagaimana dengan kau? Dimana atsarmu? Kau tak
pernah sadar akan kedunguanmu. Ku membencimu dengan cintaku. Ingin ku
meminjamkan air mataku untukmu, agar kau tau indahnya rasa sakit yang kau
teteskan dan mengendap, menggumpal, runcing seperti stalaktit di rongga jantungku
yang kapanpun ketika roboh akan membunuh dimensi kebatinanku.
Tuhaan, ku
mohon tolong aku... ulurkan
tanganMu untukku,
Dengarkan
jeritan hatiku, hapuskan dia dari setiap hitungan detak jantungku. Seharusnya
aku tak menghendaki kau hadir dalam roda perjalanan hidupku, ku mohon
tinggalkan aku. Aku takut sakit ini menjalar ke jantungku dan mampu
menggerogoti setiap detik hidupku, sedangkan kau tau arah pandanganku masih
begitu jauh melampaui dinding langit.
nice....
BalasHapusgo ahead...!!!