Senin, 16 April 2012


Layaknya manusia bodoh, lidahku kelu mendengar segala ucapanmu. Caramu mengisahkan dia terhadapku begitu beda, seperti ada sinar yang membuatku ragu akan sebenarnya hatimu. Terkadang terlihat putih dengan rasa manis, namun terkadang terlihat hitam dengan rasa pahit. Aku tak pernah tau kenapa aku harus marah dan sering menanyakan semua tentang kau, yang ku tahu... tanpamu aku seperti tak mampu melangkah. Hai anak adam, ku mohon kembalikan kebahagiaanku yang secara sepihak kau rebut. Tuhaan, betapa aku lelah dengan cuaca yang tak pasti, dengan angin yang sering memaksa untuk ku tangkap, dengan alam yang seolah tanpa sedikitpun memberi pembelaan terhadapku. Huuffft... aku hanya ingin semua berakhir dengan senyuman.
Akupun tak begitu tau tentang rasa ini, inikah cinta?? Semua diam.... kepada siapa ku harus mengadu, aku butuh sepasang telinga yang selalu tulus medengar nada-nada lidahku, aku butuh sepasang mata untuk selalu dengan tulus melihat senyumku yang terkadang meredup karena tertiup angin rindu, aku butuh jemari yang lembut yang selalu dengan tulus menyeka setiap titik air mataku, dan akupun butuh uluran tangan untuk mempermudah jalan dan meringankan langkahku serta menuntun langkah gontaiku.
Tuhan, aku tak ingin berlarut dalam ruang tanpa warna, tunjukkan aku jalan yang sekiranya aku mampu membuatMU tersenyum melihatku. Aku begitu takut jikalau Kau meninggalkanku. Bawa hatiku kedalam tawa sang waktu, kedalam naluri malaikat-malaikatMu. Kenapa KAU tak ciptakan aku sebagai malaikat? Selalu dekat denganMu, dan tak pernah ada cuaca buruk disana. Karena cintaMU selalu menyelimuti mereka.
 Semua ini salahku, aku mencari dan mengikat setelah ku temukan keindahan dalam dirimu. Setiap ucapmu, langkahmu, tatapmu, bahkan marahmu.... selalu ada keindahan disana. Beribu detik yang mengiringi nafasku dan nafasmu, puluhan tawa yang kau ciptakan untukku, setiap ayunan lengan yang menunjukkan kasih sayangmu... seluas itu kau percikkan tinta emas di dinding hatiku. kau tak pernah tau indahnya rangkaian asaku. Dedaunan yang gugur itupun tau, mereka saksi kebisuan cintaku, mereka mengerti dan selalu menjawab pertanyaanku dengan mengerutkan setiap urat yang kemudian mengering malu karena tak mampu membantuku. Bagaimana dengan kau? Dimana atsarmu? Kau tak pernah sadar akan kedunguanmu. Ku membencimu dengan cintaku. Ingin ku meminjamkan air mataku untukmu, agar kau tau indahnya rasa sakit yang kau teteskan dan mengendap, menggumpal, runcing seperti stalaktit di rongga jantungku yang kapanpun ketika roboh akan membunuh dimensi kebatinanku.
Tuhaan, ku mohon tolong aku...     ulurkan tanganMu untukku,
Dengarkan jeritan hatiku, hapuskan dia dari setiap hitungan detak jantungku. Seharusnya aku tak menghendaki kau hadir dalam roda perjalanan hidupku, ku mohon tinggalkan aku. Aku takut sakit ini menjalar ke jantungku dan mampu menggerogoti setiap detik hidupku, sedangkan kau tau arah pandanganku masih begitu jauh melampaui dinding langit.