Kamis, 27 Oktober 2011

mereka berjalan berderap dengan mengendap seolah tanpa nampak, dengan langkah lebar tapi rapat hingga tak ada makhluk yang tahu tentang bopengnya. wahai penguasa, hentikan ulahmu yang memporak-porandakan masa depan bangsa, memutus nadi pemuda-pemudi dengan cara paksa. hidupmu hanya seperti manusia yang pura-pura buta, dengan sengaja tanpa atau bahkan menghilangkan kompas yang telah Tuhan titipkan padamu..
jika kami mau, kami mampu merobek hati dan meleburkan tulang belulangmu, tapi kami tak buta akan agama.
kalian sering merongrong ganas tanpa was-was, demokrasi atau otokrasi??? kamipun tak tau.
sangat disayangkan, imun kalian memang tidak begitu kuat..hingga penyakit krisis moral menggerogoti rasa malu dan keberadaan hati kalian. udalaah... tak ada guna kau seperti itu, toh semua akan kembali padamu.hai, asal kau tau..tingkahmu begitu memuakkan kami. begitu pintar memainkan lidah, memercikan tinta diatas daun putih yang seharusnya bermakna untuk kami...karena semuanya tentang ikrarmu, kami kira juga bukan karena salah Tuhan menitipkan lidah dan tangan padamu, kau sering merenggut hak-hak Tuhan..tak pernah kami dengar ucapan trimakasih dari mulutmu, trimakasih atas nyawamu dan nafasmu. kami kira kau memang sudah mati, sayangnya bukan jasadnya, sehingga menyusahkan kami untuk menguburmu!
kau terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang menyelimutimu, hahaha...dan akhirnya malaikat berhasil mencuri hatimu, membutakan matamu, dan menulikan telingamu. hmm, betapa kami iba melihatmu....




aku adalah lumpur hitam yang berdebu, menempel disandal dan sepatu..
hinggap diatas aspal, terguyur hujan terpelanting masuk comberan, tanpa uluran tangan Tuhan, aku hanyalah lumpur hitam yang malang...
thank'Z God.. luv U...